Soppeng, Sidiknewss | SMP Negeri 1 Lilirilau mulai menunjukkan langkah progresif dalam pengelolaan lingkungan sekolah dengan menerapkan sistem digitalisasi di berbagai aspek operasional. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya peningkatan efisiensi, transparansi, serta pembentukan budaya disiplin di kalangan siswa dan tenaga pendidik.
Salah satu terobosan yang diterapkan adalah sistem absensi siswa berbasis barcode. Setiap siswa kini memiliki kode unik yang digunakan untuk mencatat kehadiran secara cepat dan akurat. Metode ini menggantikan proses manual yang selama ini memakan waktu dan rawan kesalahan pencatatan.
Namun, demi efektivitas pembelajaran dan memastikan pemahaman siswa tetap optimal tanpa ketergantungan pada AI, sekolah menetapkan aturan bahwa setelah absensi, seluruh siswa wajib menyimpan ponsel di tempat yang telah disediakan.
Tak hanya siswa, sistem serupa juga diterapkan pada tamu yang berkunjung ke lingkungan sekolah. Pengisian data kunjungan kini dilakukan melalui pemindaian barcode, sehingga proses administrasi menjadi lebih tertata dan terdokumentasi dengan baik.
Digitalisasi juga menjangkau tenaga pengajar. Guru diwajibkan mengisi formulir harian terkait kehadiran serta detail kegiatan pembelajaran. Data tersebut langsung terintegrasi ke perangkat komputer atau laptop yang digunakan untuk pemantauan dan pelaporan, memungkinkan kontrol yang lebih sistematis terhadap aktivitas akademik.
Kepala SMP Negeri 1 Lilirilau, Agus Salim, S.Pd., M.M, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Kami sudah mulai menerapkan digitalisasi dengan memanfaatkan inovasi berbasis barcode. Sebagian kegiatan di sekolah kini telah melibatkan sistem ini untuk meningkatkan efisiensi, mulai dari absensi siswa, pengisian daftar tamu, pelaporan kegiatan pengajaran guru, hingga sistem layanan guru BK kepada siswa,” ujarnya, (Senin 20, April 2026).
Di sisi lain, guru Bimbingan Konseling (BK) turut memanfaatkan sistem ini dalam penegakan disiplin siswa. Melalui pemindaian barcode, pelanggaran siswa dapat langsung tercatat dalam sistem dengan mekanisme penilaian berbasis poin. Setiap jenis pelanggaran memiliki pengurangan poin tertentu, sementara perilaku positif seperti kedisiplinan, prestasi, dan keaktifan justru akan menambah poin.
Pendekatan ini dinilai lebih edukatif dibandingkan metode hukuman konvensional. Sanksi yang lebih berat, seperti pemanggilan orang tua, hanya dilakukan jika akumulasi poin pelanggaran telah mencapai batas tertentu. Dengan demikian, sistem ini tidak hanya menindak, tetapi juga memberi ruang bagi siswa untuk memperbaiki diri.
Seluruh data yang masuk dalam sistem dapat diakses secara langsung oleh pihak yang bertanggung jawab, sehingga proses pengawasan menjadi lebih cepat, akurat, dan terukur.
Agus Salim menambahkan, pengembangan sistem digital ini tidak akan berhenti pada tahap awal.
“Ke depan, kami akan terus mengembangkan dan memperbanyak fasilitas berbasis digital, termasuk sistem yang dapat diakses melalui internet, agar pengelolaan data dan pelayanan di sekolah menjadi lebih terbuka, terintegrasi, dan mudah diakses oleh pihak terkait,” tutupnya.
Penerapan digitalisasi di SMP Negeri 1 Lilirilau ini menjadi contoh konkret bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas manajemen sekolah. Di tengah tuntutan zaman yang terus berkembang, langkah ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Penulis: April



